Lomba Menulis @budayasaya_Merawat Ingatan Peradaban Manusia di Bumi

 @budayasaya / @budayainyong

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
     
Artikel dibuat oleh Dewi Rahmawati | 07 Mei 2020                                                                      
Untuk mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh Budaya Saya berkolaborasi dengan Kemendikbud RI.

    Setiap negara dibelahan dunia memiliki situs bersejarah atau situs warisan yang selalu mengundang decak kagum para manusia yang melihatnya. Baik berupa bangunan, militer, budaya, sejarah bahkan sosial. Salah satu cara sebuah negara menyimpan peninggalan sejarah tersebut dengan meletakan didalam museum. Museum sengaja dibangun guna menjadi tempat mengumpulkan, menyajikan, dan merawat situs bersejarah yang menjadj warisan budaya suatu negara, dengan tujuan agar dapat menjadi acuan dalam penelitian, belajar bahkan objek wisata.
    Indonesia pun memiliki situs bersejarah dan dinobatkan oleh UNESCO pada tanggal 06 Desember 1996 sebagai Warisan Dunia, yang bernama Situs Manusia Purba Sangiran. Situs yang menyajikan fosil serta benda arkeolog ini terletak di Jawa Tengah dan secara administratif berada di dua kabupaten, yakni Kabupaten Sragen (Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kali Jambe, dan Plupuh) dan Kabupaten Karang Anyar (Kecamatan Gondang Rejo). Dengan memiliki luas mencapai 56 KM ditetapkan sebagai Daerah Cagar Budaya.
     Pada tahun 1977, Situs Sangiran mendirikan Museum Prasejarah Sangiran dengan tema “Apresiasi Sejarah Peradaban Manusia”. Awal didirikannya, semua fosil yang ditemukan dalam penelitian ditempatkan di rumah Toto Marsono selaku kepala desa Krikilan kala itu. Dikarenakan semakin lama semakin bertambah, maka didirikanlah Museum Prasejarah Sangiran. Sekaligus menjadi area penelitian kehidupan prasejarah terlengkap di Asia, bahkan dunia.
     Dengan kedatangan para peneliti arkeolog, Sangiran mulai dikenal dunia. Salah satunya adalah Eugene Dubois. Namun, pada saat itu antusias dalam penelitian belum mendalam, karena ia memusatkan aktivitas penelitian di kawasan Trinil, Ngawi. Kemudian datang ahli paleontologi berkebangsaan Belanda, yakni Van Koenigswald yang meniliti di Sangiran dan menemukan Homo Erectus, fosil gigi rahang spesies Homo Modjokertensis, tengkorak Pithecanthropus Erectus, serta rahang atas dan bawah spesies Meganthropus Paleojavanicus, dan fosil binatang purba. Fosil jenis Hominid purba yang berhasil ditemukan sebanyak kurang lebih 50 jenis. Fosil tersebut ditemukan dari 50% temuan fosil di dunia, 65% temuan fosil di Indonesia.
     Koleksi yang disajikan mulai dari fosil manusia purba yang terdiri dari jenis Pithecanthropus Modjokertensis (Pithecanthropus Robustus), Homo SoloensisHomo Neanderthal EropaHomo Neanderthal AsiaHomo Sapiens, dan Australopithecus Africanus Meganthropus Paleojavanicus. Fosil binatang purba terdapat jenis tulang belakang seperti Sus sp (babi), Rhinocerus Sondaicus (badak), Elephas Namadicus (gajah), Bovidae (sapi banteng), sedangkan fosil binatang air purba memiliki fosil ikan, gigi hiu, Crocodilus sp (buaya), Chelonia sp (kura-kura). Tidak lupa jenis batu-batuan meteorit, kalesdos, ametis, agate, diatome dan alat-alat batu zaman prasejarah.
     Dari berbagai penelitian, disimpulkan bahwa persebaran Homo Erectus di Jawa tersebar di daerah Trinil, Sambungmacan, Ngandong dan Mojokerto. Penyebab kepunahan dari manusia purba diduga karena hujan meteorit, letusan gunung berapi dan perubahan lingkungan secara drastis.
     Setiap ruangan di museum memiliki fosil yang tertata rapi serta tidak lupa keterangan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris guna mendukung dalam penyampaian informasi kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Fasilitas lainnya seperti laboratorium, gudang fosil, mess untuk para peneliti, ruang slide, gardu pandang, fasilitas audio visual, sehingga wisatawan dapat menonton pemutaran film terbentuknya peradaban manusia di bumi. Semua fasilitas yang disajikan dilengkapi dengan Air Conditioner atau AC, sehingga wisatawan merasa nyaman ketika berkunjung. Terdapat juga toko souvenir khusus menjual pernak-pernik khas Museum Prasejarah Sangiran.
     Di era seperti ini ber-swafoto menjadi hal yang “harus” dilakukan ketika kita mengunjungi suatu tempat yang unik dan menarik. Guna sebagai tanda bahwa kita pernah mengunjungi, atau diunggah di sosial media. Museum Prasejarah Sangiran memiliki titik-titik unik nan menarik yang bisa dilakukan wisatawan untuk ber-swafoto. Terdapat beberapa titik selain didalam museum, latar belakang tulisan Museum Manusia Purba Sangiran dan gambar Homo Erectus, pintu keluar menuju area parkir, joglo Sarana Edukasi, patung rekonstruksi Homo Erectus, kolam ikan menjadi tempat favorit pengunjung untuk ber-swafoto sebelum mengakhiri kunjungan. Sobat se-tanah air, tidak ada alasan malas mengunjungi museum ya. Selain kita mendapatkan banyak ilmu, kita bisa melihat lokasi unik yang disajikan oleh museum. 

Comments